1. Abdul Rachman Daeng Mangung (Kepala Afdeling) Tahun 1951
2. Andi Pangerang Daeng Rani (Kepala Afdeling/Kepala Daerah) Tahun 1951 - 1955
3. Ma’mun Daeng Mattiro (Kepala Daerah) Tahun 1955 - 1957
4. H. A. Mappanyukki Sultan Ibrahim MatinroE ri Gowa (Kepala Daerah/Raja Bone) Tahun 1957 - 1960
5. Andi Suradi (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1960 - 1966
6. Andi Djamuddin (Pejabat Bupati Kepala Daerah) Tahun 1966 - 1966
7. Andi Tjatjo (yang menjalankan tugas Bupati Kepala Daerah) Tahun 1966 - 1967
8. Andi Baso Amir (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1967 - 1969
9. Suaib (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1969 - 1976
10. H.P.B. Harahap (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1976 - 1982
11. H. Andi Madeali (Pejabat Bupati Kepala Daerah) Tahun 1982 - 1983
12. Andi Syamsu Alam (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1983 - 1988
13. Andi Sjamsoel Alam (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1988 - 1993
14. Andi Muhammad Amir (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1993 - 1998
15. Andi Muhammad Amir (Bupati Kepala Daerah) Tahun 1998 - 2003
16. H. Andi Muh. Idris Galigo (Bupati Bone) Tahun 2003 - Sekarang
Berdasarkan Perda Kabupaten Daerah Tingkat II Bone Nomor 1 Tahun 1990
tanggal 15 Pebruari 1990 ditetapkan Hari Jadi Bone pada tanggal 6
April 1330.Dengan demikian Hari Ulang Tahun Bone ditetapkan pada
tanggal 6 April.
Sebaiknya Anda Tahu : Pesan Kajao Lalliddong Kepada Raja Termasuk Bupati
Selain itu di dalam penyelanggaraan pemerintahan sangat mengedepankan
azas kemanusiaan dan musyawarah. Prinsip ini berasal dari pesan
Kajaolaliddong seorang cerdik cendikia Bone yang hidup pada tahun
1507-1586 yang pernah disampaikan kepada Raja Bone seperti yang
dikemukakan oleh Wiwiek P . Yoesoep (1982 : 10) bahwa terdapat empat
faktor yang membesarkan kerajaan yaitu:
Seuwani, Temmatinroi matanna Arung MangkauE mitai munrinna gauE (Mata Raja tak terpejam memikirkan akibat segala perbuatan).
Maduanna, Maccapi Arung MangkauE duppai ada’ (Raja harus pintar menjawab kata-kata).
Matellunna, Maccapi Arung MangkauE mpinru ada’ (Raja harus pintar membuat kata-kata atau jawaban).
Maeppa’na, Tettakalupai surona mpawa ada tongeng (Duta tidak lupa menyampaikan kata-kata yang benar).
Selanjutnya,
Pesan Kajaolaliddong ini antara lain dapat
diinterpretasikan ke dalam pemaknaan yang mendalam bagi seorang raja
betapa pentingnya perasaan, pikiran dan kehendak rakyat dipahami dan
disikapi.
Kedua, yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah
Bone terletak pada pandangan yang meletakkan kerjasama dengan daerah
lain, dan pendekatan diplomasi sebagai bagian penting dari usaha
membangun negeri agar menjadi lebih baik.
Urgensi terhadap pandangan seperti itu tampak jelas ketika kita menelusuri puncak-puncak kejayaan Bone dimasa lalu.
Dan
sebagai bentuk monumental dari pandangan ini di kenal dalam sejarah
akan perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng yang
melahirkan TELLUM POCCOE atau dengan sebutan lain “LaMumpatue Ri
Timurung” yang dimaksudkan sebagai upaya memperkuat posisi kerajaan
dalam menghadapi tantangan dari luar.
Kemudian pelajaran dan hikmah yang ketiga dapat
dipetik dari sejarah kerajaan Bone adalah warisan budaya kaya dengan
pesan. Pesan kemanusiaan yang mencerminkan kecerdasan manusia Bone
pada masa lalu.
0 komentar:
Posting Komentar